Tag: kejahatan remaja

Pelarian Morgan Geyser: Kisah Slender Man, Masa Lalu Kelam, dan Keputusan Berani yang Mengejutkan

Pelarian Morgan Geyser: Kisah Slender Man, Masa Lalu Kelam, dan Keputusan Berani yang Mengejutkan

Masa Lalu Kelam Morgan Geyser dan Akar Kasus Slender Man

Kasus Morgan Geyser kembali menarik perhatian publik setelah ia memotong gelang pemantau dan kabur dari fasilitas tempat tinggalnya. Kisah ini berawal lebih dari satu dekade lalu, ketika aksi penusukan yang dilakukan Morgan saat masih berusia 12 tahun mengguncang Amerika Serikat. Kala itu, Morgan dan sahabatnya, Anissa Weier, terobsesi pada tokoh fiksi internet bernama Slender Man. Mereka ingin membuktikan kesetiaan pada karakter menakutkan tersebut.

Pada 2014, mereka mengajak teman sekelasnya, Peyton Leutner, ke sebuah hutan di Waukesha, Wisconsin. Morgan lalu menikam Peyton 19 kali. Meskipun terluka parah, Peyton berhasil merangkak keluar hutan hingga ditemukan oleh pesepeda. Peristiwa ini menimbulkan kehebohan nasional. Banyak orang saat itu terkejut bagaimana dua anak bisa melakukan tindakan sekejam itu untuk menyenangkan tokoh yang bahkan tidak nyata.

Selain itu, hubungan ketiganya semula terlihat biasa. Mereka sering menghabiskan waktu bersama. Namun, Peyton sering merasa takut karena Morgan terlalu sering membicarakan Slender Man. Bahkan, malam sebelum kejadian, Peyton datang ke rumah Morgan untuk pesta ulang tahun sederhana.

Kasus ini kemudian berlanjut ke pengadilan. Morgan mengaku bersalah atas percobaan pembunuhan tingkat pertama. Namun, ia ditempatkan di institusi mental, bukan penjara. Pada 2018, Morgan menyampaikan permintaan maaf kepada Peyton dan keluarganya, menyatakan ia tidak pernah berniat membuat kejadian itu terjadi.


Pelarian Morgan Geyser dan Situasi Terkini yang Mengkhawatirkan

Setelah hampir tujuh tahun menjalani perawatan, pengadilan mengizinkan Morgan dibebaskan bersyarat pada Januari lalu. Ia kemudian ditempatkan di sebuah group home di Madison, Wisconsin. Namun, situasi berubah pada Sabtu malam, ketika Morgan memotong gelang pemantau dan pergi bersama seorang dewasa yang tidak disebutkan identitasnya. Polisi menyatakan ia terakhir terlihat di lingkungan perumahan di sisi barat Madison sekitar pukul delapan malam.

Hingga kini, tidak ada keterangan jelas bagaimana ia keluar dari fasilitas tersebut. Pengacaranya, Tony Cotton, meminta Morgan segera menyerahkan diri. Ia menegaskan bahwa mereka sudah bekerja keras mendapatkan kebebasan Morgan, sehingga pelarian ini justru bisa merusaknya.

Kasus ini mengingatkan publik bahwa proses pemulihan seseorang yang memiliki sejarah panjang gangguan psikologis tidak selalu berjalan mulus. Bahkan, beberapa fasilitas menolak menerima Morgan sebelumnya karena tekanan publik. Misalnya, sebuah tempat di Sun Prairie menolak karena terlalu banyak reaksi negatif.

Di sisi lain, rekannya, Anissa Weier, yang juga terlibat dalam kasus yang sama, telah dibebaskan lebih awal pada 2021. Ia harus tinggal bersama ayahnya dan mengenakan alat pelacak GPS sebagai syarat pembebasan.

Untuk menggambarkan situasi kedua tersangka, berikut tabel ringkas:

NamaStatus HukumKondisi Terkini
Morgan GeyserPercobaan pembunuhan tingkat pertamaKabur setelah memotong gelang pemantau
Anissa WeierPercobaan pembunuhan tingkat keduaBebas bersyarat, tinggal dengan ayah, wajib memakai GPS

Kasus pelarian Morgan menimbulkan banyak pertanyaan. Pertama, publik bertanya bagaimana pengawasan dilakukan. Kedua, peristiwa ini menyoroti tantangan sistem rehabilitasi bagi pelaku kejahatan remaja. Ketiga, masyarakat khawatir kejadian buruk bisa terulang kembali.

Namun, hingga kini belum ada bukti bahwa Morgan berencana melakukan tindakan berbahaya. Meski demikian, aparat masih mencari keberadaan Morgan karena ia melanggar aturan pembebasan. Pihak kepolisian juga belum memberikan rincian siapa yang menemaninya saat kabur.


Akhir Kisah Sementara dan Ketegangan yang Masih Menggantung

Kisah Morgan Geyser belum berakhir. Pelariannya membuka kembali luka lama dan memunculkan diskusi tentang bagaimana negara seharusnya menangani pelaku kejahatan muda dengan kondisi mental. Banyak pihak menghadapi dilema. Di satu sisi, Morgan jelas melakukan kejahatan berat di usia muda. Di sisi lain, ia juga menjalani proses rehabilitasi panjang dan menunjukkan penyesalan.

Sementara itu, masyarakat bersiap menunggu perkembangan investigasi. Banyak orang berharap Morgan segera menyerahkan diri sehingga peristiwa ini bisa diselesaikan tanpa insiden baru yang menakutkan. Polisi tetap melakukan pencarian dan mengumpulkan detail tambahan mengenai pelariannya. Hingga informasi baru muncul, kisah ini masih menggantung seperti ketegangan film thriller, namun berlangsung di dunia nyata.

Yang jelas, peristiwa ini kembali mengingatkan bahwa trauma masa lalu tidak selalu selesai ketika pintu institusi tertutup. Dalam kasus Morgan, bab berikutnya baru saja dimulai.